Site Feedback

Damai Negeriku.

Aku sadar hadirmu tak hanya menyelipkan duka
hingga air mata hadir menjadi penegas luka
kau datang tanpa signal
mengambil jiwa amat kucinta kucinta,
meluluh lantakkan bumi permai pertiwiku.


Tapi apa daya?
Titik sanubari batin ku tak lagi bersuara
Jiwaku hilang berbaur bersama duka
Meski ragaku seolah kokoh,


Tangan Tuhan telah berkuasa disana
merendam rumah yang telah tertata.
Air di mana-mana, menenggelamkan segalanya,
Membersitkan luka dan duka diseluruh penjuru negeri.


Gunung kokoh kini tak lagi bersahabat,
meletus tanpa isyarat.
Muntahan lahar magma, dan debu vulkanik
tersirat kemarahan oleh mereka,
seakan telah muak dan benci,
sehingga matilah kotaku.

Hati siapa yang tak teriris?


Tetapi, aku tak boleh melihat dari satu sisi.
Karena ada hikmah dibalik pilu ini,
ada teguran dalam sudut pedih ini.
Agar kita sadar diri,
agar kita kembali taat dalam ibadah
berserah diri di setiap musibah,
Karena sang khalik rindu tangis kita.

Alam memimpikan perlakuan istimewa.
Ia adalah titipan sang khalik,
TitipanNya yg menjadi siklus kehidupan,
siklus kehidupan yang bernilai ibadah


Kan ku lestarikan bumi pertiwi ini
agar hidupku memiliki arti
agar sayatanku terobati,
oleh limpahan duka yang mencabik hati,
hingga lukaku tak akan abadi~


#PrayForIndonesia

Pict: An old women walks on a road covered with volcanic ash following an eruption of Kelud Mount, in Yogyakarta, Indonesia.

Share:

 

0 comments

    Please enter between 0 and 2000 characters.

     

    Corrections

    No corrections have been written yet. Please write a correction!

    Write a correction

    Please enter between 25 and 8000 characters.

     

    More notebook entries written in Indonesian

    Show More