Site Feedback

Kedatangan di Indonesia

Saya masih ingat waktu saya pertama kali datang ke indonesia. Waktu saya keluar gedung lapangan terbang saya merasa buruk. Di luar hawanya panas dan lembab. Dan langsung saya berpeluh. Saya memakai pakaian salah, karena di jerman ada musim salju. Pakaian saya adalah tebal dan tidak sesuai dengan cuaca. Tubuh saya belum menyesuaikan diri untuk hidup di daerah tropis. Saya sakit kepala dan semua tenaga saya hilang. Mudah-mudahan saya tidak jatuh pingsan. Saya membawa sebuah koper dan dua buah ransel, yang sekarang merasa berat sekali. Saya berpikir koper saya terlalu besar. Kenapa saya membawa terlalu banyak barang-barang? Kenapa panas sekali di Jakarta? Saya ingin mati.

Apa lagi, ada beberapa orang laki-laki. Mereka bertanya saya kalau saya perlu bantuan, kalau saya mau sewa mobil, … Saya tidak tahu kalau mereka jahat atau tidak, jadi saya menjawab “tidak mau, tidak perlu” dan berjalan terus.

Untunglah saya langsung menemukan bis berwarna kuning. Saya masuk pelan-pelan karena koper saya berat seperti itu penuh batu-batu. Orang-orang di bis memandang terpaku saya seperti saya makhluk asing. Saya mengesampingkan mereka dan duduk. Beperapa menit lalu bis berangkat. Saya melihat ke luar jendela. Ada tanaman asing di sebelah jalan.
Kami datang di lapangan terbang lain. Saya menunggu sampai semua orang keluar, terus saya mengambil koper saya dan juga pergi ke luar. Hampir saya tersandung.

Di toko di gedung lapangan terbang saya membeli dua air botol yang mahal - malah untuk orang jerman. Saya minum banyak air yang sangat dingin. Sekarang saya sudah merasa kuat lagi. Saya penuh tenaga baru.

Dua jam lagi saya duduk di pesawat terbang yang berangkat dari Jakarta menuju ke semarang. Saya memiliki tempat duduk di sebelah jendela, jadi saya bisa melihat gedung-gedung Jakarta dari atas. Saya melihat sawah-sawah yang berkilau keemasan di sinar matahri. Saya melihat jalan-jalan yang panjang, rumah-rumah yang kecil seperti kubus. Saya juga melihat samudra di utara semarang. Ada beberapa perahu di samudra. Lalu pesawat terbang memulai turun.

Di Semarang saya pergi ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Di cermin saya mengamati wajah yang kelihatan asing. Di bawah mata saya ada cincin yang gelap. Saya kelihatan seperti saya tak tidur seminggu. Bagus sekali!

Dian yang bekerja di kantor di Semarang menjemput saya. Dian mengamati koper saya dan menaikkan satu alis. „Kamu membawa kulkasmu ke Indonesia? “ Dia tertawa. „Selamat Datang!"

Share:

 

15 comments

    Please enter between 0 and 2000 characters.

     

    Corrections

    Ganz lustig!

    aber tut mir leid, Ich habe keine Korrektur, denn diese bisherigen Leute sehr perfektlich deinen Eintrag korrigieren haben.

     

    Kommst du hier nach Indien!

    Du willst Indonesia ist nicht schrecklich finden... ´=P

     

    Viel Erfolg!!!

    Kedatangan ku di ke Indonesia or you can use "Berkunjung ke Indonesia"

    Saya masih ingat waktu saya pertama kali datang ke Indonesia. Waktu saya keluar gedung lapangan terbang terminal saya merasa buruk. Di luar hawanya panas dan lembab. Dan langsung saya langsung berpeluh (it's too formal, just replace with "berkeringat") . Saya memakai pakaian yang salah, karena di jerman ada musim salju. Pakaian saya adalah tebal dan tidak sesuai dengan cuaca. Tubuh saya belum menyesuaikan diri untuk hidup di daerah tropis. Saya sakit kepala dan semua tenaga saya hilang. Mudah-mudahan saya tidak jatuh pingsan. Saya membawa sebuah koper dan dua buah ransel, yang sekarang merasa rasanya berat sekali. Saya berpikir koper saya terlalu besar. Kenapa saya membawa terlalu banyak barang-barang? Kenapa panas sekali di Jakarta? Saya ingin mati.

    Apa lagi, ada beberapa orang laki-laki. Mereka bertanya saya kalau saya perlu bantuan, kalau saya mau sewa mobil, … Saya tidak tahu kalau mereka jahat atau tidak, jadi saya menjawab “tidak mau, tidak perlu” dan berjalan terus.

    Untunglah saya langsung menemukan bis berwarna kuning. Saya masuk pelan-pelan karena koper saya berat seperti itu penuh batu-batu. Orang-orang di bis memandang terpaku kearah saya seperti saya makhluk asing. Saya mengesampingkan  tidak memperdulikan mereka dan duduk. Bepberapa menit lalu bis berangkat. Saya melihat ke luar jendela. Ada tanaman asing di sebelah pinggir jalan.
    Kami datang sampai di lapangan terbang terminal lain. Saya menunggu sampai semua orang keluar, terus/lalu saya mengambil koper saya dan juga pergi ke keluar dari bus. Hampir saya saya hampir tersandung.

    Di toko di dalam gedung lapangan terbang terminal saya membeli dua air botol yang mahal - malah untuk orang jerman. Saya minum banyak air yang sangat dingin. Sekarang saya sudah merasa kuat lagi. Saya penuh tenaga baru/sudah bertenaga lagi.

    Dua jam lagi saya duduk di pesawat terbang yang berangkat dari Jakarta menuju ke Semarang. Saya memiliki tempat duduk di sebelah jendela, jadi saya bisa melihat gedung-gedung Jakarta dari atas. Saya melihat sawah-sawah yang berkilau keemasan dibawah sinar matahri. Saya melihat jalan-jalan yang panjang, rumah-rumah yang kecil seperti kubus. Saya juga melihat samudra laut di utara semarang. Ada beberapa perahu di samudra laut Lalu pesawat terbang memulai turun.

    Di Semarang saya pergi ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Di cermin saya mengamati wajah yang kelihatan asing. Di bawah mata saya ada cincin yang gelap. Saya kelihatan seperti saya tak tidur seminggu. Bagus sekali!

    Dian yang bekerja di kantor di Semarang menjemput saya. Dian mengamati koper saya dan menaikkan satu alis. „Kamu membawa kulkasmu ke Indonesia? “ Dia tertawa. „Selamat Datang!"

     

    Overall it's really good! 

    Ah, if you use "Saya" don't use it for twice in one paragraph :)

    Bahasa Indonesiamu sudah lancar dan baik!

     

    Kedatanganku di ke Indonesia

    Saya masih ingat waktu saya pertama kali datang ke indonesia. Waktu saya keluar gedung lapangan terbang dari bandara, saya merasa buruk tak enak

    Note:

    (kita jarang berkata "Saya merasa buruk", lebih sering mengatakan "nggak enak")

     Di luar hawanya panas dan lembab. Dan Saya pun langsung saya berpeluh berkeringat (or to be less formal "keringatan". "berpeluh" or "peluh" is a very poetic word, we never use it in conversations).

    Note: kata "pun" dalam konteks ini memiliki arti "maka/lantas/jadinya" (so, therefore, then)

    Saya memakai pakaian yang salah, karena di jerman ada sedang musim salju. Pakaian saya adalah tebal dan tidak sesuai dengan cuaca. Tubuh saya belum menyesuaikan diri untuk hidup di daerah tropis. Saya sakit kepala dan semua tenaga saya hilang. Mudah-mudahan saya tidak jatuh pingsan. Saya membawa sebuah koper dan dua buah ransel, yang sekarang merasa terasa berat sekali. Saya berpikir koper saya terlalu besar. Kenapa saya membawa terlalu banyak barang-barang? Kenapa panas sekali di Jakarta? Saya ingin mati. tolong jangan mati :(

    Note:
    1) perbedaan "merasa" dan "terasa" ada di subyek dan obyek. "me-" dipakai untuk subyek (saya, kamu, dia merasa. Untuk obyek, kita pakai "ter-". Tas ini terasa berat. Udaranya terasa panas.)

    2) the word "banyak" and "barang-barang" is redundant. after "banyak" we don't use plural form. thus, "banyak barang-barang" is incorrect. "banyak barang", "banyak orang", "banyak anak", "banyak cewek" is correct.

    Apa(there should be no space here)lagi, ada beberapa orang (the word "orang" can be eliminated since "laki-laki" is certainly "orang") laki-laki. Mereka bertanya kepada saya kalau saya perlu bantuan, kalau saya mau sewa mobil, … Saya tidak tahu kalau apakah mereka jahat atau tidak, jadi saya menjawab “tidak mau, tidak perlu” dan berjalan terus.

    Untunglah saya langsung menemukan bis berwarna kuning. Saya masuk pelan-pelan karena koper saya berat seperti itu penuh batu-batu. Orang-orang di bis memandang terpaku ke arah saya seperti seolah-olah saya makhluk asing. Saya mengesampingkan tidak memedulikan mereka dan duduk. Beperapa menit lalu sesudahnya bis pun berangkat. Saya melihat ke luar jendela. Ada tanaman asing aneh di sebelah jalan.

    Note:
    1) "penuh" dan "banyak" memiliki penggunaan yang sama. maka "penuh batu" lebih tepat.
    2) "seolah-olah" atau "seakan-akan" means "as if", while "seperti" means "like".
    3) "mengesampingkan" is usually used in figurative sentences, seperti "Saya mengesampingkan hal itu." atau "Saya mengesampingkan perasaan cinta ini agar saya bisa berpikir dengan logika." lebih tepat menggunakan "tidak memedulikan" or "do not care", "set them aside".

    Kami datang tiba (or, "sampai", means arrive) di lapangan terbang (atau bandara) lain. Saya menunggu sampai semua orang keluar, terus saya mengambil koper saya dan juga pergi ke luar. Hampir saya tersandung.

    Di sebuah toko di gedung lapangan terbang bandara, saya membeli dua air botol botol air mineral yang mahal - malah bahkan untuk orang jerman. Saya minum banyak air yang sangat dingin banyak-banyak. Sekarang saya sudah merasa kuat lagi. Saya penuh tenaga baru. (lebih tepatnya, "Tubuh saya penuh tenaga")

    Note:
    "banyak-banyak" is an adverb.

    Dua jam lagi kemudian saya duduk di pesawat terbang yang berangkat dari Jakarta menuju ke (kata "ke" dapat dihilangkan karena "menuju" sudah memiliki arti "to") semarang. Saya memiliki tempat duduk Tempat duduk saya ada di sebelah jendela, jadi saya bisa melihat gedung-gedung Jakarta dari atas. Saya melihat sawah-sawah yang berkilau keemasan di sinar matahari. Saya melihat jalan-jalan yang panjang, rumah-rumah yang kecil seperti kubus. Saya juga melihat samudera (atau lebih tepatnya, laut = sea) di utara semarang. Ada beberapa perahu di samudera. Lalu pesawat terbang memulai turun.

    Note:
    1) "memiliki" tidak tepat digunakan dalam kalimat ini. "memiliki" means "to own", and in this context, you do not own the seat.
    2) lebih tepat menggunakan kata "laut" daripada "samudera", samudera means an ocean. laut = sea.

    Di Semarang saya pergi ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Di cermin saya mengamati wajah yang kelihatan asing. Di bawah mata saya ada cincin yang gelap. Saya kelihatan seperti saya tak tidur seminggu. Bagus sekali!

    Dian yang bekerja di kantor di Semarang menjemput saya. Dian mengamati koper saya dan menaikkan satu alis. "Kamu membawa kulkasmu ke Indonesia?“ Dia tertawa. "Selamat Datang!"

    Kedatangan di Indonesia

    Saya masih ingat waktu saya pertama kali datang ke indonesia. Sewaktu saya keluar bandara saya merasa buruk. Di luar hawanya panas dan lembab. Dan langsung saya berpeluh. Saya memakai pakaian yang salah, karena di jerman sedang musim salju. Pakaian saya tebal dan tidak sesuai dengan cuaca. Tubuh saya belum menyesuaikan diri untuk hidup di daerah tropis. Saya sakit kepala dan semua tenaga saya hilang. Mudah-mudahan saya tidak jatuh pingsan. Saya membawa sebuah koper dan dua buah ransel, yang sekarang terasa berat sekali. Saya berpikir koper saya terlalu besar. Kenapa saya membawa terlalu banyak barang-barang? Kenapa panas sekali di Jakarta? Saya ingin mati.

    Apa lagi, ada beberapa orang laki-laki. Mereka bertanya saya kalau saya perlu bantuan, kalau saya mau sewa mobil, … Saya tidak tahu mereka jahat atau tidak, jadi saya menjawab “tidak mau, tidak perlu” dan berjalan terus.

    Untunglah saya langsung menemukan bis berwarna kuning. Saya masuk pelan-pelan karena koper saya berat seperti penuh batu-batu. Orang-orang di bis memandang terpaku saya seperti saya makhluk asing. Saya mengesampingkan mereka dan duduk. Beperapa menit kemudian bis berangkat. Saya melihat ke luar jendela. Ada tanaman asing di sebelah jalan.
    Kami tiba di bandara lain. Saya menunggu sampai semua orang keluar, terus saya mengambil koper saya dan juga pergi ke luar. Hampir saya tersandung.

    Di toko di bandara saya membeli dua air botol yang mahal untuk orang jerman. Saya minum banyak air yang sangat dingin. Sekarang saya sudah merasa kuat lagi. Saya penuh tenaga baru.

    Dua jam kemudian saya duduk di pesawat terbang yang berangkat dari Jakarta menuju ke semarang. Saya memiliki tempat duduk di sebelah jendela, jadi saya bisa melihat gedung-gedung Jakarta dari atas. Saya melihat sawah-sawah yang berkilau keemasan di sinar matahri. Saya melihat jalan-jalan yang panjang, rumah-rumah yang kecil seperti kubus. Saya juga melihat laut di utara semarang. Ada beberapa perahu di laut. Lalu pesawat terbang mulai turun.

    Di Semarang saya pergi ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Di cermin saya mengamati wajah yang kelihatan asing. Di bawah mata saya ada cincin yang gelap. Saya kelihatan seperti saya tak tidur seminggu. Bagus sekali!

    Dian yang bekerja di kantor di Semarang menjemput saya. Dian mengamati koper saya dan menaikkan satu alis. „Kamu membawa kulkasmu ke Indonesia? “ Dia tertawa. „Selamat Datang!"

    Kedatangan di Indonesia

    Saya masih ingat waktu saya pertama kali datang ke Indonesia. Waktu saya keluar dari terminal bandara, saya merasa buruk. Di luar hawanya panas dan lembab, sehingga saya langsung saya berkeringat. Saya memakai pakaian yang salah, karena di Jerman ada musim salju. Pakaian saya tebal dan tidak sesuai dengan cuaca. Tubuh saya belum menyesuaikan diri untuk hidup di daerah tropis. Saya sakit kepala dan semua tenaga saya hilang. Mudah-mudahan saya tidak jatuh pingsan. Saya membawa sebuah koper dan dua buah ransel, yang terasa berat sekali. Saya pikir koper saya terlalu besar. Kenapa saya membawa terlalu banyak barang? Kenapa panas sekali di Jakarta? Saya ingin mati.

    Apa lagi, ada beberapa orang laki-laki. Mereka bertanya kepada saya, apakah saya perlu bantuan, atau saya mau menyewa mobil, … Saya tidak tahu apakah mereka jahat atau tidak, jadi saya menjawab “tidak mau, tidak perlu” dan terus berjalan.

    Untunglah saya langsung menemukan bis berwarna kuning. Saya masuk pelan-pelan karena koper saya berat seperti penuh oleh bebatuan. Orang-orang di bis memandang, terpaku melihat saya, seperti saya ini makhluk asing. Saya tidak memperdulikan mereka dan duduk. Beberapa menit kemudian, bis berangkat. Saya melihat ke luar jendela. Ada tanaman asing di sebelah jalan.
    Kami pergi ke bandara lainnya. Saya menunggu sampai semua orang keluar, terus saya mengambil koper saya dan juga pergi ke luar. Saya hampir tersandung.
    Di sebuah toko di terminal bandara, saya membeli dua botol air yang mahal - malah untuk orang Jerman. Saya minum banyak air yang sangat dingin. Sekarang saya sudah merasa kuat lagi. Saya penuh tenaga baru.

    Dua jam lagi saya akan duduk di pesawat terbang yang berangkat dari Jakarta menuju ke Semarang. Saya memiliki tempat duduk di sebelah jendela, jadi saya bisa melihat gedung-gedung Jakarta dari atas. Saya melihat sawah-sawah yang berkilau keemasan di bawah sinar matahari. Saya melihat jalan-jalan yang panjang, rumah-rumah yang kecil seperti kubus. Saya juga melihat samudra di utara Semarang. Ada beberapa perahu di laut. Lalu pesawat terbangnya pun mulai turun (lepas landas).

    Di Semarang, saya pergi ke kamar kecil untuk mencuci tangan. Di cermin saya mengamati wajah yang kelihatan asing. Di bawah mata saya ada cincin yang gelap. Saya kelihatan seperti saya tak tidur seminggu. Bagus sekali!

    Dian yang bekerja di kantor di Semarang menjemput saya. Dian mengamati koper saya dan menaikkan satu alis. „Kamu membawa kulkasmu ke Indonesia? “ Dia tertawa. „Selamat Datang!"

     

    ***

    Hahahaa.. Bawa kulkas! Penasaran, apa saja yang dibawa?

    Ngomong-ngomong, bahasa Indonesianya lancar sekali. Sudah lama tinggal di Indonesia ya?

    Write a correction

    Please enter between 25 and 8000 characters.

     

    More notebook entries written in Indonesian

    Show More