Site Feedback

Neraka di lantai dua

Itu adalah pertama kaliku naik sepeda motor. Aku merasa heboh. Amel mengendarai cepat ke atas bukit dan masuk ke jalan yang dipadati banyak sepeda motor. Aku belum sesuai dengan lalu lintas di sebelah kiri. Perasaan itu aneh. Di mana-mana ada cahaya sepeda motor seperti mata di gelapnya. Hawanya sejuk dan penuh dengung. Adrenalin mengebut di tubuhku. Aku merasa dalam keadaan hidup.

Kami berhenti di depan sebuah warung yang bercahaya. Juga pertama kali aku melihat sebuah warung. Saat ini aku nggak suka warung, dengan jujur bagiku kelihatan kotor. Beberapa hari lagi pikiranku berubah. Aku menjadi tergila-gila dengan makanan Indonesia.

Amel dan aku duduk dan berbincang tentang perbedaan hidup di Jerman dan Indonesia sambil orang warung (?xD) menyiapkan nasi goreng ayam. Kami berbicara di dalam bahasa inggris. Bahasa indonesiaku belum lancar.

Kembali ke kantor, aku berbicara dengan Mas Ketut. Dia kepala organisasinya. Dia masih muda dan suka bercanda. Jauh malam Mas Ketut menunjukkan kamarku – di lantai dua! Di sana panas sekali dan aku nggak bisa membayangkan tidur di kamarnya. „Apakah sudah seorang bule meninggal di kamarnya?“, aku tanya. Mas Ketut terbahak-bahak. „Jangan cobanya!“

Jika ada neraka dunia, itu terletak di lantai dua di kantornya. Aku mengalami malamnya yang paling buruk di hidupku. Apa gunyanya sebuah lantai dua di Semarang? Habitat untuk binatang tropis? Kamar paksa? Aku nggak tahu, tapi itu bukan kamar tidur!

Aku berbaring di lantai dan berkeringat keras. Aku langsung membuka hampir semua pakaianku. Di mana kipas angin? Awalnya jendela tutup karena aku takut sama nyamuk-nyamuk. Tapi dua puluh menit lagi aku memutuskan bahwa aku lebih suka digigit nyamuk dari pada judul surat kabarnya „Bule mati kepanasan. Kasihan!“ Sayangnya hawanya di luar hampir tidak lebih dingin. Aku mencoba berpikir bahwa aku sekarang berada di kutub selatan sama pinguin. Tidak ada gunanya … Pada malam-malam aku ketiduran.

Pada dini hari aku terbangung. Boooom! Aku mengagetkan. Apakah Semarang dibom? Di luar bising sekali. Aku membuka jendela. Aku tak pakai lensa kontak supaya semua samar-samar. Aku mendengar suara-suara aneh yang berseru … atau menyanyi? Pelan-pelan aku menyadari itu suara muazin-muazin. Tentu saja… Aku mencoba tidur lagi tapi tidak bisa. Argh! Bagaimana bisa orang-orang hidup di sini? Mereka punya AC di dalam tubuhnya? Barangkali ya… Semoga di Jepara - aku akan tinggal di sana selama lima bulan - suhunya lebih dingin. Semoga…

Share:

 

7 comments

    Please enter between 0 and 2000 characters.

     

    Corrections

    Neraka di lantai dua

    Itu adalah pertama kaliku kali aku (kali pertamaku) naik sepeda motor ("motor" aja juga boleh). Aku merasa heboh. Amel mengendarai motor dengan cepat ke atas bukit dan masuk ke jalan yang dipadati banyak sepeda motor. Aku belum sesuai terbiasa dengan lalu lintas di sebelah kiri. Perasaan itu Aku merasa aneh. Di mana-mana ada cahaya sepeda motor seperti mata melihat terang dalam kegelapan di gelapnya. Hawanya sejuk dan angin berhembus kencang penuh dengung. Adrenalin mengebut mengalir cepat di tubuhku. Aku merasa hidup dalam keadaan hidup.

    Kami berhenti di depan sebuah warung yang bercahaya terang. Juga Ini juga pertama kalinya aku melihat sebuah warung. Pada saat ini itu aku nggak suka warung, dengan jujur bagiku kelihatan (terlihat) kotor. Beberapa hari lagi kemudian pikiranku berubah. Aku menjadi tergila-gila dengan makanan Indonesia.

    Amel dan aku duduk dan sambil berbincang tentang perbedaan hidup di Jerman dan di Indonesia sambil sementara orang warung (?xD) (penjual warung) menyiapkan nasi goreng ayam. Kami berbicara di dalam bahasa inggris. Bahasa indonesiaku belum lancar.

    Kembali ke kantor, aku berbicara dengan Mas Ketut. Dia kepala organisasinya. Dia masih muda dan suka bercanda. Jauh malam Larut malam Mas Ketut menunjukkan kamarku yang terletak di lantai dua! Di sana panas sekali dan aku nggak bisa membayangkan tidur di kamarnya di dalam kamar itu. "Apakah sudah seorang pernah ada bule meninggal di kamarnya ini?“, aku tanya tanyaku. Mas Ketut terbahak-bahak. "Jangan cobanya coba - coba (mencobanya)!“

    Jika ada neraka dunia, itu terletak letaknya di lantai dua di kantornya. Aku mengalami malamnya yang paling buruk di hidupku. Apa gunyanya sebuah lantai dua di Semarang? Habitat untuk binatang tropis? Kamar paksa? Aku nggak tahu, tapi itu bukan kamar tidur!

    Aku berbaring di lantai dan berkeringat keras keringat mengucur deras. Aku langsung membuka melepas hampir semua pakaianku. Di mana kipas angin? Awalnya jendela aku tutup karena aku takut sama nyamuk-nyamuk. Tapi dua puluh menit lagi kemudian aku memutuskan bahwa aku lebih suka digigit nyamuk daripada terbit sebuah surat kabar judul surat kabarnya berjudul "Bule mati kepanasan. Kasihan!“ Sayangnya hawanya di luar hampir tidak lebih dingin. Aku mencoba berpikir membayangkan bahwa aku sekarang sedang berada di kutub selatan bersama (dengan) pinguin. Tidak ada gunanya … Pada malam-malam Akhirnya aku ketiduran.

    Pada dini hari aku terbangung. Boooom! Aku terkaget mengagetkan. Apakah Semarang dibom? Di luar bising sekali. Aku membuka jendela. Aku tak tidak pakai memakai lensa kontak supaya semua terlihat samar-samar. Aku mendengar suara-suara aneh yang antara berseru … atau menyanyi? Pelan-pelan aku menyadari itu adalah suara muazin-muazin. Tentu saja… Aku mencoba tidur lagi tapi dan ternyata tidak bisa. Argh! Bagaimana bisa orang-orang bertahan hidup di sini? Mereka punya AC di dalam tubuhnya? Barangkali ya… Semoga di Jepara jika aku akan tinggal di sana selama lima bulan suhunya menjadi lebih dingin. Semoga…

     

    Kasihan, Nicklas :D

     

    Neraka di lantai dua

    Hari Itu adalah pertama kalinya aku naik sepeda motor. Aku merasa heboh gembira. Amel mengendarai motornya dengan cepat ke atas bukit dan masuk ke melewati  jalan yang dipadati banyak sepeda motor. Aku belum sesuai terbiasa dengan lalu lintas di sebelah kiri. Perasaan itu yang aneh. Di mana-mana ada cahaya sepeda motor seperti mata di gelapnya yang melihat didalam kegelapan. Hawanya sejuk dan penuh dengung suara berisik. Adrenalin mengebut mengalir di tubuhku. Aku merasa dalam keadaan hidup.

    Kami berhenti di depan sebuah warung yang bercahaya. Dan Juga pertama kalinya aku melihat sebuah warung. Pada saat ini itu aku nggak suka warung, dengan jujur saja bagiku kelihatan kotor. Beberapa hari lagi kemudian pikiranku berubah. Aku menjadi tergila-gila dengan makanan Indonesia.

    Amel dan aku duduk dan berbincang tentang perbedaan hidup di Jerman dan Indonesia sambil orang warung menyiapkan nasi goreng ayam. Kami berbicara di dalam bahasa inggris. Bahasa indonesiaku belum lancar.

    Kembali ke kantor, aku berbicara dengan Mas Ketut. Dia kepala organisasinya. Dia masih muda dan suka bercanda. Jauh malam Sudah larut malam, Mas Ketut menunjukkan kamarku di lantai dua! Di sana panas sekali dan aku nggak bisa membayangkan tidur di kamarnya. „Apakah sudah pernah ada seorang bule meninggal di kamarnya?“, aku tanya. Mas Ketut terbahak-bahak. „Jangan coba-coba cobanya!“

    Jika ada neraka di dunia, neraka itu terletak di lantai dua di kantornya. Aku mengalami malamnya yang paling buruk didalam hidupku. Apa gunyanya sebuah lantai dua di Semarang? Habitat untuk binatang tropis? Kamar paksa? Aku nggak tahu, tapi itu bukan kamar tidur!

    Aku berbaring di lantai dan berkeringat keras. Aku langsung membuka hampir semua pakaianku. Di mana kipas angin? Awalnya jendela tertutup karena aku takut sama nyamuk-nyamuk. Tapi dua puluh menit lagi kemudian aku memutuskan bahwa aku lebih suka digigit nyamuk dari pada nanti ada judul di surat kabarnya „Bule mati kepanasan. Kasihan!“ Sayangnya hawanya di luar hampir tidak lebih dingin. Aku mencoba berpikir bahwa aku sekarang berada di kutub selatan sama pinguin, tapi tidak ada gunanya … Pada malam-malam akhirnya aku ketiduran.

    Pada dini hari aku terbangung. Boooom! Aku mengagetkan kaget/terkejut. Apakah Semarang dibom? Di luar bising sekali. Aku membuka jendela. Aku tak pakai lensa kontak supaya dan semua terlihat samar-samar. Aku mendengar suara-suara aneh yang berseru … atau menyanyi? Pelan-pelan aku menyadari itu suara muazin-muazin. Tentu saja… Aku mencoba tidur lagi tapi tidak bisa. Argh! Bagaimana bisa orang-orang hidup di sini? Mereka punya AC di dalam tubuhnya? Barangkali ya… Semoga di Jepara - aku akan tinggal di sana selama lima bulan - suhunya lebih dingin. Semoga…

     

    Kasihan!!

    Ini cerita yang lucu.......Lanjutkan!!

    Neraka di lantai dua

    Itu adalah pertama kalinya aku naik sepeda motor. Aku merasa heboh. Amel mengendarai cepat ke atas bukit dan masuk ke jalan yang dipadati banyak sepeda motor. Aku belum terbiasa dengan melewati jalur lalu lintas di sebelah kiri. Perasaan itu aneh. Di mana-mana ada cahaya sepeda motor seperti mata yang melihat dalam kegelapan. Hawanya sejuk dan penuh dengan suara dengung kendaraan. Adrenalin mengebut di tubuhku. Aku merasa dalam keadaan hidup.

    Kami berhenti di depan sebuah warung yang bercahaya. Ini merupakan pertama kalinya aku melihat sebuah warung. Saat ini aku nggak suka warung, karena jujur, bagiku warung itu kelihatan kotor. Beberapa hari lagi pikiranku akan berubah. Aku menjadi tergila-gila dengan makanan Indonesia.

    Amel dan aku duduk dan berbincang tentang perbedaan hidup di Jerman dan Indonesia sambil menunggu penjualnya (?xD) menyiapkan nasi goreng ayam. Kami berbicara dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesiaku belum lancar.

    Sekembalinya ke kantor, aku berbicara dengan Mas Ketut. Dia kepala organisasinya. Dia masih muda dan suka bercanda. Jauh Di malam harinya, Mas Ketut menunjukkan kamarku – di lantai dua! Di sana panas sekali dan aku nggak bisa membayangkan tidur di kamar tersebut. „Apakah sudah pernah ada seorang bule meninggal di kamar tersebut/itu?“, tanyaku. Mas Ketut terbahak-bahak. „Jangan coba-coba!“

    Jika ada neraka dunia, maka itu terletak di lantai dua di kantornya. Aku mengalami malam yang paling buruk di hidupku. Apa gunanya sebuah lantai dua di Semarang? Habitat untuk binatang tropis? Kamar dadakan? Aku nggak tahu, tapi itu bukan kamar tidur!

    Aku berbaring di lantai dan berkeringat deras. Aku langsung membuka hampir semua pakaianku. Di mana kipas angin? Awalnya jendela kututup karena aku takut sama nyamuk. Tapi dua puluh menit kemudian, aku memutuskan bahwa aku lebih suka digigit nyamuk dari pada tertulis di judul surat kabarnya „Bule mati kepanasan. Kasihan!“ Sayangnya hawa di luar hampir tidak lebih dingin. Aku mencoba mensugesti diri, bahwa aku sekarang berada di kutub selatan bersama pinguin. Tidak ada gunanya … Malamnya aku ketiduran.

    Pada dini hari aku terbangun. Boooom! Aku kaget. Apakah Semarang dibom? Di luar bising sekali. Aku membuka jendela. Aku tak pakai lensa kontak supaya semua samar-samar. Aku mendengar suara-suara aneh yang berseru … atau menyanyi? Pelan-pelan aku menyadari itu suara-suara muazin. Tentu saja… Aku mencoba tidur lagi tapi tidak bisa. Argh! Bagaimana orang-orang bisa hidup disini? Apa mereka punya AC di dalam tubuhnya? Barangkali iya… Semoga di Jepara - aku akan tinggal di sana selama lima bulan - suhunya lebih dingin. Semoga…

     

    ***

     

    Semoga...

    Write a correction

    Please enter between 25 and 8000 characters.

     

    More notebook entries written in Indonesian

    Show More